Beranda :: Artikel :: Umum :: Masyarakat Bertakwa Negara Kaya Raya
AddThis Social Bookmark Button
Masyarakat Bertakwa Negara Kaya Raya
Selasa, 28 Juli 2009 14:18

Apa kaitannya ketakwaan dengan kekayaan negara? Tentu saja, hubungannya sangat kuat. Teori-teori ekonomi akan membuktikan bahwa semakin bertakwa masyarakat akan semakin kaya negaranya.

Sebelum mengupas lebih dalam, mari kita lihat dari sebuah ayat yang menceritakan tentang takwa dan kekayaan negara. “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Al-‘Araf:96) Janji Allah, sang pencipta, sudah sedemikian jelas bahwa pada negeri yang masyarakatnya bertakwa berkah akan turun dari langit dan bumi -atau  singkatnya negeri itu akan makmur.

Mari menelaah ayat tersebut dari sisi ekonomi dan indikator kemakmuran suatu negara yang paling umum digunakan. Indikator itu adalah gross domestic product atau GDP yang diartikan juga sebagai pendapatan domestik bruto (PDB). Salah satu rumus menghitung GDP adalah Y = C + G + I + (X-M). Masing-masing variabel dapat diartikan Y adalah total pendapatan, C adalah total konsumsi, G adalah total pengeluaran pemerintah, I adalah total investasi, X adalah nilai ekspor, dan M adalah nilai impor.

Mari kita lihat lebih dekat tentang konsumsi di Indonesia. Pada pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2008, sumbangan konsumsi sangat besar. PDB atas dasar harga berlaku tahun 2008 senilai Rp 4.954,0 triliun, sebagian besar digunakan untuk konsumsi rumah tangga sebesar Rp 3.019,5 triliun.
Dari data tersebut, dapat kita lihat betapa besarnya kaitan antara pola konsumsi masyarakat sangat perekonomian suatu negara. Sementara itu pola konsumsi masyarakat sangat dipengaruhi pula oleh kualitas individunya. Semakin baik kualitas individu semakin baik kualitas konsumsinya.

Bagaimana kualitas konsumsi yang baik? Jawabannya dari teori ekonomi konvesional adalah ketika tingkat kepuasan dari berbagai kombinasi barang yang kita beli sesuai dengan kurva pendapatan kita. Teori ekonomi konvensional memang hanya memberikan kita alternatif konsumsi secara materialistis. Lebih lanjut, teori ini cenderung mendorong manusia menjadi egois dan hanya memikirkan kepuasan dirinya sendiri. Tentu saja bukan konsumsi seperti ini yang kita inginkan.

Mari kita lihat dari sudut pandang lain. Dalam pandangan syariah, konsumsi tidak hanya dalam konteks memuaskan kebutuhan pribadi. Dalam syariah, kita diajarkan ada kebutuhan batin yang perlu kita penuhi yang kita kenal juga dengan istilah amal. Bentuk amal dalam hal ini adalah zakat, infaq, dan shodaqoh. Orang-orang yang bertakwa percaya bahwa bentuk kegiatan itu adalah investasi jangka panjang yang ganjarannya bisa mencapai 700 kali lipat atau bahkan tak terhingga, baik di dunia maupun akhirat nanti.

Bila dipandang dari sistem ekonomi, zakat, infaq, dan shodaqoh ini pada hakikatnya adalah bentuk distribusi sumber daya. Zakat, infaq, dan shodaqoh adalah suatu mekanisme yang mencegah ekonomi menjadi stagnan karena berada di kalangan tertentu saja. Selanjutnya bila para penerima zakat, infaq, dan shodaqoh ini memiliki keahlian tertentu, ia dapat menggunakannya dalam proses produktif.

Semakin banyak individu dalam masyarakat yang bertakwa semakin banyak pula konsumsi dalam bentuk zakat, infaq, dan shodaqoh sehingga akan semakin besar pula efeknya. Selanjutnya, semakin banyak pula orang yang terentaskan dari kemiskinan dan mampu membayar zakat, infaq, dan shodaqoh. Akhirnya, mekanisme ini akan membuat proses-proses produktif digandakan secara berlipat.

Dengan bergandanya proses produktif ini, maka sumber-sumber daya yang dimiliki suatu negeri dapat diolah untuk kemakmuran negeri pada tingkat selanjutnya. Mungkin inilah yang disebut dengan “berkah dari langit dan bumi”.

Sumber : Tedy J. Sitepu