 Kembali kita kini dihadapkan berbagai persoalan nilai hidup dan kehidupan, bukan saja dalam tatanan muamalah, tapi juga sudah berimbas pada suatu keyakinan (believers) dan masyarakat kita gendrung percaya kepada paranormal daripada kepada kiyai/buya/tuan guru atau apapun namanya. Awal bulan September ini saya sedikit sibuk menerima sms dan telepon dari teman-teman bukan saja dalam negeri, tapi juga berimbas pada teman saya yang ada di Singapura, Brunei, Thailand, Moro (Philipino) dan juga tak kalah gencarnya teman saya di semananjung Malaysia. Mereka percaya kepada tanggal 09 September 2009 angka 09 09 09 (baca : nine, nine and nine) atau tis’ah, tis’ah wa tis’ah = Arabic. What Happen? Ada apa gerangan yang terjadi? Ada yang menyatakan pada tanggal 09 09 09 tersebut yang jatuh pada hari Rabu ini memberikan isyarat ilmiah terhadap dinamika perjalanan kita, manusia? Maka sibuklah pakar paranormal, memberikan isu dan hal-hal ghaib yang dipantau mereka, entah lewat media jin, media ruh, dan media-media khadam lainnya membentangkan sebuah panorama ramalan ditambah dengan solusi jimat, susuk mulai susuk berlian, emas, mutiara hingga susuk sate? (baca: tusuk sate) ha ha ha ha! Ada lagi yang memprediksi akan terjadi perubahan cuaca. Mungkin ia selalu mengikuti BMG tentang ramalan cuaca, kali. Dan ini kata mereka isyarat bahwa pada tahun ini akan banyak lagi memakan korban, bukan saja bencana alam tapi juga bencana kehidupan, subhanallah! Berbagai isu berkembang, mulai terjadi gempa, semburan gas, turunnya dajjal yang akan mengobrak-abrik tatanan kehidupan, juga makhluk aneh dari planet lain berkeliaran yang selalu menabur angin untuk menuai badai yang katanya semuanya memberikan isyarat signal kehidupan, emang dunia kita udah tua! Jadi pada tanggal 09 bulan 09 dan tahun 2009 ini akan terjadi kiamat kecil di planet bumi ini, paling tidak kiamat perasaan, mulai dari rakyat jelata yang tak sanggup lagi beli makanan lantaran harganya selalu naik, juga susu yang semestinya turun juga ikut naik sebagai protes dari tatanan keadaan Demikian anggapan sebahagian orang tentang suasana dan kondisi pada tanggal tersebut. Ini diprediksi oleh golongan negativisme yang memiliki ilmu negativilogi, yakni menjadikan hal yang selalu negatif and sah-sah saja, asal jangan meresahkan! Lain lagi dengan golongan positivisme dengan ilmu positivilogi-nya yakni menjadikan hal yang selalu mengandung hikmah dan positif, bahkan ada kalangan artis dan pasangan muda-mudi memilih pada hari tersebut sebagai acara akad-nikah/perkawinannya, asyik kan. Demikian juga dalam bidang politik, selalu bergejolak dengan berbagai beriak politikus yang sudah tentu menimbulkan berbagai suasana dan dimensinya untuk menabur berbagai janji yang insya Allah tidak akan ditepatinya (kutipu kau) !!!!!!!! Rakyat sudah jenuh dengan labelitas dan gaya para politisi kita, mulai carut-marut, MLB partai dan berbagai persaingan kepentingannya bisa semua sah-sah saja sebagai penghalus kata dari menghalalkan semua cara. Walaupun KPK selalu bergantayangan, mengobrak-abrik berbagai dokumen (maaf) sampai wakil rakyat yang terhormatpun dilibas demi supremasi hukum bang-saku. .Itu dalam bidang politik, lain lagi dengan bidang ekonomi, subsidi BBM dengan program smart card-nya menuai kegelisahan bagi para pemilik kendaraan, kecuali bahan bakarnya diganti dengan air. Tapi air ATB pun ikut naik, bukan naik saja tapi juga ikut macet sebagaimana kredit macet, keruh dan kering berpadu menggapai air kehidupan, semoga. Kita berteriak harga melambung tinggi, naik bertingkat dan bertahap tapi kata ustadz kita tidak pernah bertanya tentang kenaikan harga diri kita di hadapan Allah swt, Tuhan Yang Maha Kuasa ! hahahaha (dasar ustadz)!!!! Dalam bidang sosial budaya kita udah mencanangkan Visit Batam 2010, dengan berbagai strategi dan sosialisasi hingga manca Negara, tapi apa lacur tempat yang elok, negeri yang kaya, penduduk yang ramah, budaya yang menawan kalau kita tidak komet dan tidak inovatif paling tidak ada perubahan, khususnya dalam tatanan formal pemerintahan, on time bung !!!!!! Saya dan kawan-kawan pernah ikut acara sosialisasi tentang pariwisata di kota ini, undangan sich pukul 08.30 WIB tapi acara dimulai pukul 11.05 WIB (bagaimana tuch Dinas Pariwisata) ? Tapi kata teman saya (yang menganut paham positivisme), itu perlu dipertahankan, sebab keterlambatan, kejahilan kalau perlu ditambah satu kuadrat lagi yakni jahil murakkab, itu seni yang amat tinggi dan itu menjadi tontonan yang cukup berkesan dengan pengalaman yang amat luar biasa, jengkelnya! Ha ha ha! Dasar oon dipelihara! Kemarin teman saya orang Amrik datang ke Irian (Papua) cukup senang dan ia selalu bercerita tentang koteka masyarakat di sana? Bagaimana Bung? Kan oon perlu dipelihara! Lain lagi dengan golongan yang biasa-biasa saja, dengan santainya ia berujar, bahwa pada tanggal tersebut adalah perhitungan biasa angka 09 09 09 sungguh biasa dan itu emang udah semestinya! (nggak perlu diributin)!!!!!!! Ada lagi kelompok Filasof, mereka sibuk mencari makna filosofi dari berbagai peristiwa, mulai isyarat alam yang dipelajari, isyarat kehidupan sampai kepada isyarat dukun dan paranormal, bahkan isyarat permainan jailangkongpun dijadikan makna dan iktibar lemahnya tatanan masyarakat kita terhadap isu khurafat dan mungkarat lainnya. Padahal agama kita jelas memberikan gambaran lewat Nabi Besar Muhammad SAW mengingatkan ; …” Jauhi/takutilah olehmu prasangka (isu)? Karena sesungguhnya prasangka (isu) itu adalah seburuk-buruk pembicaraan’’… Sebagai seorang Muslim dan anak bangsa yang mengaku beriman, kita sebenarnya percaya apapun yang akan terjadi sebab semua itu sudah diproyeksi Allah dengan layar monitor lauh mahfudz yang tertulis dalam qadha dan qadar-Nya. Maka ada kewajiban kita untuk berikhtiar, berbagai usaha dengan doa dan tawakkal adalah kuncinya. Oleh sebab itu orang Muslim tidak akan terpengaruh dengan berbagai isu yang beredar belakangan ini. Tapi sebagai koreksi dan kewaspadaan, sebenarnya kita perlu bertafakkur, merenung dalam rangka menyiapkan pribadi, menyongsong percaturan global yang kompetitif dengan life skill /kompetensi yang memadai dalam seluruh lini, mulai pergaulan global, (horizontal) maupun ubudiyah (vertikal) kita kepada Allah SWT, Penguasa Tunggal Alam Semesta, maka kewajiban kita untuk tidak mensyarikatkan-Nya, apalagi menjadikan yang lain sebagai ILAH dengan khurafat, mistik dan perdukunan, (naudzubillah min dzalik)! Alquran mengingatkan kita ; …”Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah hanya kepada Allah dan hendaklah setiap diri melihat (memperhatikan, nalar) yang telah dikerjakan, sebagai imbas/kelanjutan untuk hari esok”….. (QS. 59 :18). *** EFFENDY ASMAWI ALHAJJ Sekretaris MUI Provinsi Kepri batampos.co.id
|